Akhlak Kang Jalal (2)

Siapa yang tidak kenal Prof. Dr. Jalaludin Rahmat? Dia adalah cendikiawan syiah yang gemilang, memiliki kemampuan berkomunikasi yang tidak diragukan lagi. Sudah menulis begitu banyak buku.

Banyak masyarakat terpukau oleh gelar dan retorikanya, oleh tulisannya yang nampak berbobot, bersandarkan referensi-referensi yang banyak.

Beberapa tahun lalu, kami pernah menulis tentang Prof Dr Jalaludin Rahmat, dengan judul Akhlak Kang Jalal, menjelaskan kecurangan Prof Dr Jalaludin Rahmat dalam diskusi yang disiarkan langsung oleh televisi.

Apakah hanya kali itu saja Kang Jalal, panggilan akrab Prof Dr Jalaludin Rahmat, berbuat curang?

Ternyata tidak sekali itu saja. Kami meneliti buku Prof Dr Kang Jalal yang berjudul Dahulukan Akhlak di atas Fiqih, ternyata kami menemukan kedustaan dalam menukil riwayat dari kitab.

Di halaman berapa?  Ada di halaman 167:

Aisyah meriwayatkan : ayahku telah mengumpulkan 500 hadis Rasulullah Saw. Pada suatu pagi ia datang padaku dan berkata: “Bawalah hadis-hadis yang ada padamu itu. Aku membawanya. Ia membakar dan berkata: “Aku takut jika kau mati aku masih meninggalkan hadis-hadits ini bersamamu.

Demikian yang ada dalam halaman 167, ternyata juga tercantum dalam hal 232.

Dari mana referensi Prof Dr Kang Jalal? Referensi tidak langsung ditulis di halaman footnote, tapi ada di bagian akhir buku, yaitu di halaman 265, yaitu Tazkiratul Huffaz jilid 1 : 5, dan Kanzul Ummal jilid 1 : 174. Mari kita lihat langsung ke TKP , supaya agan-agan sekalian tahu yang terjadi sebenarnya.

Eh, kok jadi bahasa kaskus ….

 قَالَتْ عَائِشَة: جَمَعَ أَبِيْ الْحَدِيْثَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ خَمْسمِائَة حَدِيْثٍ فَبَاتَ لَيْلَتَهُ يَتَقَلَّبُ كَثِيْراً قَالَتْ: فَغَمَّنِيْ فَقُلْتُ: أَتَتَقَلَّبُ لِشَكْوَى أَوْ لِشَيْءٍ بَلَغَكَ؟ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: أَيْ بُنَيَّةِ هَلُمِّيْ الْأَحَادِيْثَ الَّتِيْ عِنْدَكِ فَجِئْتُهُ بِهَا فَدَعَا بِنَا فَحَرَقَهَا فَقُلْتُ: لِمَ أَحْرَقْتَهَا؟ قَالَ: خَشِيْتُ أَنْ أَمُوْتَ وَهِيَ عِنْدِيْ فَيَكُوْنُ فِيْهَا أَحَادِيْثُ عَنْ رَجُلٍ قَدْ ائْتَمَنْتُهُ وَوَثِقْتُ وَلَمْ يَكُنْ كَمَا حَدَّثَنِي فَأَكُوْنُ قَدْ نَقَلْتُ ذَاكَ. فَهَذَا لاَ يَصِحُّ والله أعلم.

Inilah bunyi riwayat asli dalam Tazkiratul Huffazh. Lalu dia tidur dengan gelisah di malam hari, aku sedih akan hal itu, dan bertanya: apakah engkau gelisah karena sakit, atau karena mendengar sesuatu? Pada pagi harinya, dia berkata: wahai anakku, bawa kemari hadits-hadits yang ada padamu, lalu aku membawanya dan menyuruh untuk membakarnya. Aku bertanya: mengapa engkau membakarnya?  Jawabnya: aku takut ketika aku wafat, hadits-hadits itu tetap berada dapaku, bisa jadi ada di dalamnya hadits yang aku dengar dari orang yang kupercaya, tapi aku menulis berbeda dengan yang aku dengar, maka aku sudah ikut menukil hal itu. Ini tidak shahih, Wallahu A’lam.

Yang bergaris bawah adalah ucapan Dzahabi, artinya riwayat itu tidak shahih. Tapi kenapa Prof Dr Kang Jalal tidak ikut menyertakan keterangan Dzahabi?

Ini sudah pasti karena keterangan Dzahabi akan mementahkan tujuannya. Prof Dr Kang Jalal ingin menukil hadits itu untuk tujuan-tujuannya, dan pembaca berasumsi bahwa hadits itu shahih. Tapi sejatinya Dzahabi sendiri sudah menjelaskan bhawa hadits itu tidak shahih.

Pada hal 232, sebelum menukil riwayat ini, Prof Dr Kang Jalal berkata:

Mereka melarang periwayatan hadits dengan keras, Aisyah bercerita:….

Nah, Prof Dr Kang Jalal tidak menjelaskan bahwa riwayat ini tidak shahih, menurut Dzahabi sendiri.

Mengapa riwayat ini tidak shahih? Di mana cacatnya?

Mari agan-agan, kita ke TKP selanjutnya, yaitu ke Kanzul Ummal….. 

Di sana kita temukan riwayat yang sama, dan memang sumber riwayat itu adalah dari Al Hakim. Tapi ada yang menarik, ternyata Kanzul Ummal menukil riwayat ini dari Ibnu Katsir :

 قال الحافظ عماد الدين بن كثير في مسند الصديق : قال الحاكم أبو عبد الله النيسابوري

Al Hafiz Imaduddin Ibnu Katsir berkata dalam Musnad As Shiddiq: Abu Abdullah Al Hakim An Naisaburi berkata…..

Nah di akhir riwayat Ibnu Katsir mengomentari sanadnya :

قال ابن كثير: هذا غريب من هذا الوجه جدا وعلي بن صالح لا يعرف

Riwayat ini sangat aneh sekali, dan Ali bin Shaleh tidak diketahui.

Ali bin Shaleh adalah salah satu perawi riwayat ini. Identitasnya tidak diketahui, atau bisa jadi diketahui siapa dia, tapi tidak diketahui status validitasnya. Maka riwayat ini tidak shahih, seperti kata Dzahabi.

 {mxc}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *